VIVAnews - Setelah buron selama tiga bulan dalam
kasus ijazah palsu, seorang anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kota
Sukabumi akhirnya ditangkap polisi.
Setelah sebelumnya, HH,
anggota DPRD dari Partai Demokrat terus menerus mangkir dari panggilan
Polresta Sukabumi. Hingga akhirnya, polisi mengeluarkan surat panggilan
paksa terhadap HH.
HH berhasil ditangkap di Kawasan gang Gelatik, Gotong Royong, Jalan Bayangkara Kota Sukabumi.
"Setelah
melihat tersangka di sebuah rumah, anggota langsung melakukan penahanan
paksa,” ujar Kapolresta Sukabumi AKBP Witnu U Laksana kepada VIVAnews.com, Kamis 26 Januari 2012.
Diketahui,
rumah di gang Gelatik, Gotong Royong, Jalan Bayangkara, Kecamatan
Gunung Puyuh, Kota Sukabumi adalah kediaman C. C diduga sebagai orang
yang membantu HH untuk membuat copy ijazah palsu yang digunakan dalam
Pemilu 2009. Hingga akhirnya HH terpilih sebagai anggota DPRD Kota
Sukabumi periode 2009-2014 dari Partai Demokrat.
Witnu
menambahakan, saat ini HH sedang dalam proses pemeriksaan di ruang
Reserse dan Kriminal (Reskrim) Polresta Sukabumi. HH ditanyai berbagai
pertanyaan, terutama terkait pelariannya hingga tiga bulan. Hingga
berita ini diturunkan, HH masih berada dalam pemeriksaan Reskrim
Polresta Sukabumi.
HH diduga memalsukan ijazah dengan modus
membuat plagiat ijazah milik Asep Supriadi. HH menggganti nama Asep dan
mengganti fotonya dengan foto HH dan kemudian menyalin ulang ijazah itu.
Ijazah asli dikeluarkan dari sebuah madrasah di Kabupaten Cianjur. Saat
diusut, HH ternyata tidak terdaftar sebagai siswa di madrasah itu.
Akibat penggunaan ijazah palsu dalam Pemilu 2009 itu, HH dilaporkan oleh tokoh LSM Sapiyudin dan pemilik ijazah, Asep Supriadi.
HH
didakwa pasal 263 KUHP karena terdakwa dengan sadar telah memalsukan
ijazah demi kepentingannya untuk lolos dalam pemilihan anggota DPRD kota
Sukabumi.
Akibat perbuatannya ini, HH pun terancam hukuman penjara hingga 6
tahun, dan terancam dipecat dengan tidak hormat sebagai anggota DPRD
Kota Sukabumi.
Kamis, 26 Januari 2012
Narsisme Lebih Berbahaya Bagi Pria
VIVAnews - Anda sangat mencintai diri sendiri? Jika
Anda berjenis kelamin pria, maka kesehatan bisa jadi taruhannya. Bagi
pria, sifat yang dikenal dengan sebutan narsis ini, diketahui berkaitan
erat dengan stres yang berdampak buruk pada kesehatan tubuh.
Ini merupakan hasil studi yang dilakukan tim dari University of Virginia, Amerika Serikat. Tim peneliti menganalisis 106 responden mahasiswa dan mahasiswi, yang rata-rata berumur 20 tahun.
Mereka diberikan 40 pertanyaan yang disebut Narcissistic Personality Inventory. Pertanyaan terdiri dari lima komponen yang berbeda dari narsisme. Sifat ini biasanya ditandai dengan kepercayaan diri tinggi, cenderung meremehkan orang lain dan memiliki sedikit empati.
Peneliti juga mengukur level kortisol, yaitu hormon yang memengaruhi tubuh untuk merespon stres. Level kortisol yang tinggi sangat berhubngan dengan stres psikologis. Dengan mengombinasikan data, peneliti menemukan, pria yang komponen narsisme dalam kategori tidak sehat, level kortisolnya cukup tinggi.
"Meskipun seseorang yang bersifat narsis memiliki rasa percaya diri tinggi, mereka sebenarnya rapuh. Kerapuhan ini membuat mereka memberlakukan strategi defensif, ketika rasa superioritasnya terancam, kata David Reinhard, peneliti dan psikolog dari University of Virginia, seperti dikutip dari cbsnews.com.
Sifat defensif dan keinginan besar untuk mempertahankan superioritas, menurut Reinhard, diketahui sebagai pemicu darah tinggi. Kondisi ini terjadi ketika seseorang berada dalam level stres kronis.
"Narsisme sangat suka mengontrol, perfeksionis dan selalu mencari situasi dengan tekanan tinggi. Dalam kondisi ini level kortisol sangat tinggi," kata Dr. Mark Russ, kepala pelayanan psikiatri di Zucker Hillside Hospital, New York.
Lalu, mengapa narsisme cenderung berdampak buruk pada kesehatan pria? Peneliti memperkirakan hal ini karena definisi sosial dari maskulinitas. Yaitu menandakan sikap arogansi atau dominasi, yang mungkin memainkan peran.
Ini merupakan hasil studi yang dilakukan tim dari University of Virginia, Amerika Serikat. Tim peneliti menganalisis 106 responden mahasiswa dan mahasiswi, yang rata-rata berumur 20 tahun.
Mereka diberikan 40 pertanyaan yang disebut Narcissistic Personality Inventory. Pertanyaan terdiri dari lima komponen yang berbeda dari narsisme. Sifat ini biasanya ditandai dengan kepercayaan diri tinggi, cenderung meremehkan orang lain dan memiliki sedikit empati.
Peneliti juga mengukur level kortisol, yaitu hormon yang memengaruhi tubuh untuk merespon stres. Level kortisol yang tinggi sangat berhubngan dengan stres psikologis. Dengan mengombinasikan data, peneliti menemukan, pria yang komponen narsisme dalam kategori tidak sehat, level kortisolnya cukup tinggi.
"Meskipun seseorang yang bersifat narsis memiliki rasa percaya diri tinggi, mereka sebenarnya rapuh. Kerapuhan ini membuat mereka memberlakukan strategi defensif, ketika rasa superioritasnya terancam, kata David Reinhard, peneliti dan psikolog dari University of Virginia, seperti dikutip dari cbsnews.com.
Sifat defensif dan keinginan besar untuk mempertahankan superioritas, menurut Reinhard, diketahui sebagai pemicu darah tinggi. Kondisi ini terjadi ketika seseorang berada dalam level stres kronis.
"Narsisme sangat suka mengontrol, perfeksionis dan selalu mencari situasi dengan tekanan tinggi. Dalam kondisi ini level kortisol sangat tinggi," kata Dr. Mark Russ, kepala pelayanan psikiatri di Zucker Hillside Hospital, New York.
Lalu, mengapa narsisme cenderung berdampak buruk pada kesehatan pria? Peneliti memperkirakan hal ini karena definisi sosial dari maskulinitas. Yaitu menandakan sikap arogansi atau dominasi, yang mungkin memainkan peran.
Langganan:
Postingan (Atom)